Monday 16 February 2026 - 18:12
Rahasia Sukses Membangun Hubungan Antarmanusia dalam Sabda Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as)

Hawzah/ Dalam Hikmah Keenam Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib (as) dengan ungkapan yang fasih menunjuk kepada empat prinsip penting dalam kehidupan individual dan sosial: menjaga rahasia, muka ceria, toleransi dan menjauhi merasa diri sempurna (ujub). Prinsip-prinsip ini membuka jalan bagi hubungan yang sehat dan meraih ketenangan dalam hidup.

Berita Hawzah – Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dalam Nahjul Balaghah menyampaikan poin-poin seputar menjaga rahasia dan perilaku yang baik, yang dipersembahkan untuk para cendekiawan sekalian.

Hikmah ke-6:

«وَ قَالَ (علیه السلام): صَدْرُ الْعَاقِلِ صُنْدُوقُ سِرِّهِ، وَ الْبَشَاشَةُ حِبَالَةُ الْمَوَدَّةِ، وَ الِاحْتِمَالُ قَبْرُ الْعُیُوبِ»

Imam Ali (as) berkata, “Dada orang yang berakal adalah brankas rahasianya; keceriaan adalah ikatan kecintaan; kesabaran (terhadap gangguan orang lain) adalah kuburan bagi kekurangan (orang lain).”

Almarhum Sayyid Radhi menambahkan setelah tiga kalimat hikmah ini bahwa dalam riwayat lain dari Imam Ali (as) dijumpai ungkapan lain tentang hal ini, yang mana beliau bersabda:

«وَ رُوِیَ أَنَّهُ قَالَ فِی الْعِبَارَةِ عَنْ هَذَا الْمَعْنَی أَیْضاً [الْمُسَالَمَةُ خَبْءُ الْعُیُوبِ] الْمَسْأَلَةُ خِبَاءُ الْعُیُوبِ، وَ مَنْ رَضِیَ عَنْ نَفْسِهِ کَثُرَ السَّاخِطُ عَلَیْهِ»

Dikatakan bahwa Imam Ali (as) bahwa senada dengan ungkapan ini beliau berkata, “Perdamaian adalah penutup kekurangan; si pengagum diri menarik banyak lawan.”

Penjelasan:

Menjaga Rahasia dan Perilaku yang Baik:

Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dalam ungkapan-ungkapan ini serta apa yang disebutkan setelahnya, menekankan empat perkara:

Pertama, beliau bersabda: صَدْرُ الْعَاقِلِ صُنْدُوقُ سِرِّهِ "Dada orang yang berakal adalah brankas rahasianya."

Artinya, sebagaimana pemilik harta menyimpan benda-benda berharganya di dalam peti yang kokoh, demikian pula manusia berakal hendaknya menyembunyikan rahasianya di dalam dadanya. Sebab, jika rahasia itu jatuh ke tangan sahabat, bisa jadi menimbulkan rasa tak nyaman, dan jika jatuh ke tangan musuh,hal itu bisa menjadi senjata yang menghancurkan martabatdan harga dirinya. Selain itu, beberapa rahasia mungkin terkait dengan nasib suatu umat, yang jika terbuka pada waktu yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat. Karena itulah, dalam sejarah hidup Nabi Muhammad Saw disebutkan bahwa ketika beliau memutuskan untuk berperang melawan musuh, beliau benar-benar menyembunyikannya. Salah satu contohnya adalah peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Mekkah), di mana Rasulullah Saw menyusun strateginya dengan sangat rahasia. Seandainya beliau tidak melakukannya, dan kabar itu sampai ke penduduk Mekkah, niscaya mereka akan bersiap siaga dan pertumpahan darah besar-besaran akan terjadi di tanah suci yang dimuliakan Allah. Namun, dengan menjaga rahasia yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw menyebabkan Mekkah dapat ditaklukkan tanpa perlawanan dan tanpa setetes darah pun. Maka terbukalah lembaran baru dalam sejarah kemajuan Islam—saat musuh-musuh yang dahulu membangkang, kini berbondong-bondong kembali kepada kebenaran.

Almarhum Mughniyah dalam syarah Nahjul Balaghah-nya, ketika sampai pada bagian ini, melontarkan kecaman pedas terhadap keadaan dunia saat itu—di mana berbagai alat dan sarana diciptakan untuk memata-matai dan membongkar rahasia pribadi seseorang, sehingga rahasia setiap orang tersingkap dengan cara yang mengerikan. Pernyataan itu beliau sampaikan pada zamannya, ketika berbagai persoalan teknologi modern ini belum lagi muncul.

Kini, keadaannya jauh berbeda. Dengan alat penyadap, satelit, kamera tersembunyi, dan berbagai perangkat canggih lainnya yang dapat dipasang di mana saja secara diam-diam, hampir tidak ada rahasia yang benar-benar aman. Inilah bentuk ketidakamanan yang ironis di tengah gemerlap klaim dunia modern. Alih-alih membebaskan, teknologi justru mengancam kebebasan manusia itu sendiri.

Dalam sebuah hadis yang dinukil dalam kitab Ghurar al-Hikam dari Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam, kita baca:

«سِرُّکَ أسیرُکَ وَ إنْ أفْشَیْتَهُ صِرْتَ أسیرَهُ»

"Rahasiamu adalah tawananmu, dan apabila engkau menyebarkannya, engkau akan menjadi tawanannya." (1)

Dalam hadis lain dari Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam, kita baca:

«إِظْهَارُ الشَّیْءِ قَبْلَ أَنْ یُسْتَحْکَمَ مَفْسَدَةٌ لَهُ»

"Menampakkan sesuatu sebelum ia kokoh (matang) adalah penyebab kerusakannya." (2)

Ada sebagian orang yang berkata, "Kami hanya menceritakan rahasia kami kepada sahabat karib." Mereka lupa bahwa sahabat karib itu pun memiliki sahabat karib lainnya. Sebagaimana kata Sa'di:

"Wahai orang yang lengah! Bendunglah air dari mata airnya, Karena jika sudah meluap, engkau tak akan bisa membendung sungai."

Maksud dari perkataan Sa'di ini adalah "Rahasia yang ingin kau sembunyikan, jangan engkau ceritakan kepada siapa pun. Walau dia sahabat sejati, karena sahabat itu pun memiliki sahabat-sahabat sejati, demikianlah seterusnya. Diam itu lebih baik daripada menceritakan isi hati kepada seseorang, Lalu berpesan, 'Jangan kau ceritakan!'"

Kemudian, pada kalimat kedua, Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bersabda: وَ الْبَشَاشَةُ حِبَالَةُ الْمَوَدَّةِ "keceriaan adalah ikatan kecintaan."

Tanpa diragukan lagi, orang-orang yang berwajah ceria dan berperilaku baik, serta berinteraksi dengan orang lain dengan wajah berseri dan bibir yang merekah penuh senyuman, akan memiliki banyak teman. Sebaliknya, individu-individu yang menghadapi orang lain dengan wajah masam, cemberut, dan penuh kemarahan, akan membuat orang-orang membenci mereka. Karena menjalin kasih sayang dapat menyatukan barisan dan mempersatukan kata, dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan pahala yang besar untuk keramahan dan wajah ceria. Di antaranya, dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dalam Bihar al-Anwar, kita baca sabda beliau:

«إِذَا لَقِیتُمْ إِخْوَانَکُمْ فَتَصَافَحُوا وَأَظْهِرُوا لَهُمُ الْبَشَاشَةَ وَالْبِشْرَ تَفَرَّقُوا وَمَا عَلَیْکُمْ مِنَ الاَْوْزَارِ قَدْ ذَهَبَ»

"Apabila kalian bertemu dengan saudara-saudara seiman kalian, berjabat tanganlah, dan tampakkanlah keramahan serta keceriaan kepada mereka. Maka ketika kalian berpisah, dosa-dosa kalian telah gugur (diampuni)." (3)

Dalam riwayat terkenal dari Nabi (saww) disebutkan bahwa beliau bersabda:

«یَا بَنِی عَبْدِالْمُطَّلِبِ إِنَّکُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِکُمْ فَالْقَوْهُمْ بِطَلاَقَةِ الْوَجْهِ وَحُسْنِ الْبِشْرِ»

"Wahai anak- anak Abdul Muthalib, sesungguhnya kalian tidak akan sanggup memuaskan semua orang dengan harta kalian. Maka, temuilah mereka dengan wajah yang berseri dan keramahan yang baik." (4)

Ungkapan "ḥibālah" (jerat/jaring) mengisyaratkan bahwa bahkan orang-orang yang menjauhi kita pun, dengan menunjukkan kasih sayang dan keramahan, akan tertarik kepada kita, dan rasa dendam akan terhapus dari dalam dada.

Dalam sebagian perkataan para orang-orang bijak disebutkan bahwa ada tiga hal yang dapat menampakkan rasa cinta di hati saudara seiman: menghadapi mereka dengan wajah berseri, mendahului dalam memberi salam, dan menyediakan tempat yang layak untuk mereka di majelis-majelis. (5)

Pada kalimat ketiga, Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bersabda: وَ الِاحْتِمَالُ قَبْرُ الْعُیُوبِ "kesabaran (terhadap gangguan orang lain) adalah kuburan bagi kekurangan (orang lain)."

Ini mengisyaratkan bahwa sering kali manusia merasa tidak nyaman dengan perilaku sebagian teman, kerabat, atau bahkan orang biasa, atau menghadapi masalah dan kesulitan hidup yang meresahkan. Orang yang mampu menanggung ketidaknyamanan ini telah meraih keutamaan besar yang dapat menutupi aib-aib dirinya. Sebaliknya, individu yang tidak sabar dan mudah gelisah akan berteriak-teriak dan terjerumus ke dalam ucapan atau perbuatan yang penuh dengan keburukan.

Kemungkinan lain dalam menafsirkan kalimat ini adalah bahwa banyak dari kegelisahan manusia muncul akibat kegagalan dalam hidup. Jika ia tidak gelisah, orang lain tidak akan mengetahui kegagalan yang disebabkan oleh ketidakmampuannya tersebut, dan dengan demikian aib-aibnya akan tertutupi. Jika tidak demikian, semua orang akan mengetahui titik-titik kelemahannya.

Almarhum Sayyid Radhi menambahkan setelah tiga kalimat hikmah ini bahwa dalam riwayat lain dari Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dijumpai ungkapan lain tentang makna ini, di mana beliau bersabda: «الْمُسَالَمَةُ خَبْءُ الْعُیُوبِ»,"Perdamaian adalah penutup kekurangan" (6) Khibā' berarti kemah atau tempat di mana sesuatu dapat ditemukan dan tersembunyi. Meskipun ungkapan "musālamah" dengan "ihtimāl" tidak jauh berbeda, karena kata "ihtimāl' mengisyaratkan pada pengendalian diri, sementara "musālamah" mengisyaratkan pada perilaku baik terhadap sesama. Pada hakikatnya, kata "ihtimāl" memiliki konsep yang berkaitan dengan diri sendiri, sedangkan musālamah berkaitan dengan orang lain.

Kemudian, Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam pada poin keempat dan terakhir bersabda: وَ مَنْ رَضِیَ عَنْ نَفْسِهِ کَثُرَ السَّاخِطُ عَلَیْهِ "Dan barangsiapa yang merasa puas terhadap dirinya sendiri, maka banyaklah orang yang murka kepadanya."

Alasannya jelas, karena seseorang yang puas terhadap dirinya sendiri (sombong/ujub) mengharapkan orang lain memberikan penghormatan besar kepadanya; semua orang memberi salam kepadanya, dalam majelis ia ingin didudukkan di tempat teratas, tidak ada yang membantah ucapannya, dan lisan orang terus-menerus memuji dan menyanjungnya. Ketika ia tidak melihat penghormatan seperti itu dan orang lain mengetahui posisinya yang sebenarnya, bukan seperti yang ia klaim, ia pun menjadi pesimis terhadap manusia, mulai mencela, dan bersikap acuh tak acuh. Hal inilah yang membuat orang lain marah kepadanya. Dengan kata lain, sifat buruk ini membuatnya marah kepada manusia—karena menurut sangkaannya mereka tidak memenuhi haknya dan tidak mengetahui nilainya—dan juga membuat manusia marah kepadanya.

Sebaliknya, orang-orang yang menempatkan dirinya dalam posisi terbuka terhadap kritik dan koreksi, bergaul dengan rendah hati, tidak pernah merasa dirinya yang paling berjasa, dan senantiasa menghormati orang lain. Sikap ini akan mendatangkan banyak teman bagi mereka.

Dalam suratnya kepada Malik Asytar, beliau bersabda:

«إِیَّاکَ وَالاِْعْجَابَ بِنَفْسِکَ وَالثِّقَةَ بِمَا یُعْجِبُکَ مِنْهَا وَحُبَّ الاِْطْرَاءِ فَإِنَّ ذَلِکَ مِنْ أَوْثَقِ فُرَصِ الشَّیْطَانِ فِی نَفْسِهِ لِیَمْحَقَ(۷) مَا یَکُونُ مِنْ إِحْسَانِ الْمُحْسِنِینَ»

"Jauhilah sifat mengagumi diri dengan mengandalkan apa yang tampak baik pada diri kalian sendiri dan menyenangi pujian yang berlebih-lebihan, karena hal itu merupakan salah satu kesempatan yang paling diandalkan setan untuk menghapus amal-amal baik dari orang berkebajikan." (7)

Dalam Ghurar al-Hikam juga dinukil dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bahwa beliau bersabda:

«ثَمَرَةُ الْعُجْبِ الْبَغْضاءُ»

"Buah dari 'ujub (kagum pada diri sendiri) adalah kebencian dan permusuhan." (8)

Ibnu Abil Hadid menukil dari sebagian ulama: Seseorang datang kepadanya dan merasa sangat puas dengan buku yang telah ditulisnya. Ulama itu berkata, "Orang-orang tidak menilai buku Anda setinggi itu." Ia menjawab, "Orang-orang itu bodoh." Ulama itu balik bertanya, "Apakah engkau menentang mereka?" Ia menjawab, "Ya." Ulama itu berkata, "Dengan demikian, berdasarkan kesepakatan (ijma') orang-orang, engkaulah yang bodoh, dan orang-orang hanya bodoh yang menurut denganperkataanmu. (Manakah yang lebih mendekati kebenaran?)" (9)

Bahaya dari 'ujub (kagum pada diri sendiri) sangat banyak, yang tidak dapat diuraikan dalam ringkasan ini. Kami akhiri pembahasan ini dengan hadis dari Rasulullah (saw): Suatu ketika Nabi Musa (as) sedang duduk, lalu setan mendatanginya dengan mengenakan jubah indah yang berwarna-warni. Musa bertanya, "Untuk apa engkau memakai pakaian ini?" Setan menjawab, "Untuk menarik hati anak cucu Adam." Musa 'alaihissalam berkata,: «فَأَخْبِرْنِی بِالذَّنْبِ الَّذِی إِذَا أَذْنَبَهُ ابْنُ آدَمَ اسْتَحْوَذْتَ عَلَیْهِ»,"Kabarkanlah kepadaku dosa apa yang apabila dilakukan oleh anak Adam, engkau pasti akan menguasainya?" Setan menjawab, «إِذَا أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ وَاسْتَکْثَرَ عَمَلَهُ وَصَغُرَ فِی عَیْنِهِ ذَنْبُهُ», "(Yaitu) ketika ia merasa kagum pada dirinya sendiri, menganggap banyak amal baiknya, dan dosa-dosanya tampak kecil di matanya." (10)

Catatan Kaki:

(1). Ghurar al-Hikam, halaman 320, hadis 7415.
(2). Bihar al-Anwar, jilid 88, halaman 254.
(3). Bihar al-Anwar, jilid 73, halaman 20, hadis 3.
(4). Al-Kafi, jilid 2, halaman 103, hadis 1.
(5). Syarh Nahj al-Balaghah karya Ibnu Abil Hadid, jilid 18, halaman 98.
(6). Di sebagian besar manuskrip Nahj al-Balaghah tertulis "المسالمة" (perdamaian/kerukunan), meskipun dalam naskah Shubhi Shalih tertulis "المسئلة" (permintaan/pertanyaan). Tampaknya ini adalah kesalahan cetak, karena kata tersebut tidak memiliki makna yang sesuai dengan konteks.
(7). "یمحق (Yamhaqu)" berarti berkurang secara bertahap dan akhirnya lenyap (dimusnahkan).
(8). Ghurar al-Hikam, hadis 7106.
(9). Syarh Nahj al-Balaghah karya Ibnu Abil Hadid, jilid 18, halaman 100.
(10). Al-Kafi, jilid 2, halaman 314, hadis 8.

Sumber: Kitab "Pesan Imam Amirul Mukminin (as)" — sebuah syarah (penjelasan) baru dan komprehensif atas Nahjul Balaghah.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha